Cendekiawan Apresiasi Polri Bongkar Sindikat Fredy Pratama

cendekiawan apresiasi polri bongkar sindikat fredy pratama 63590

Bid TIK Polda Kepri – Jakarta. Kalangan cendekiawan kampus, apresiasi prestasi Polri
bongkar sindikat Narkoba terbesar Asia Tenggara.

Hal ini disampaikan Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian
(STIK-PTIK) Dr. Yundini Husni Djamaluddin mengapresiasi kinerja Polri khususnya
Bareskrim. Menurut Yundini, pengungkapan sindikat tersebut menunjukkan
profesionalitas Polri.

“Saya mengapresiasi, jadi itu adalah suatu kerja,
menunjukkan bahwa Polri bisa bekerja profesional. Itu membuktikan bahwa Polri
bisa bekerja profesional dan berhasil,” ujar Yundini saat dihubungi, Kamis
(14/9/23).

Yundini pun menyinggung mantan Kapolda Sumatera Barat yang
juga terpidana kasus narkoba, Teddy Minahasa. Ia mengatakan, kasus Teddy
Minahasa telah meninggalkan kesan buruk bagi Polri.

Namun dengan pengungkapan sindikat Fredy Pratama ini, lanjut
Yundini, Polri memiliki momentum untuk mengembalikan citra baiknya. Ia
menegaskan, Polri harus bisa menunjukkan kepada publik bahwa Korps Bhayangkara
bekerja secara profesional dan bersih.

“Ini adalah sepenuhnya di tangan Polri, mau menunjukkan
Polri adalah Polri yang memang profesional, kuat, bisa diandalkan, yang berbeda
dengan warna yang diberikan kasus TM kemarin. Polri harus bisa menunjukkan,
kita tidak seperti kasus TM. This is the moment, momennya Polri menunjukkan,”
jelasnya.

 

Meski begitu, ia tak menyangkal bahwa pengungkapan kasus
sindikat narkoba bukanlah tugas mudah. Yundini menegaskan agar Polri dapat
mengusut peredaran narkoba dari tingkat yang paling bawah hingga teratas.

Maka dari itu, ia meminta pemerintah dan masyarakat dapat
membantu Polri dalam memberantas peredaran narkoba.

“Karena kasus-kasus narkoba adalah kasus-kasus yang pasti
banyak sel-selnya. Ini harus betul-betul bisa dibersihkan, harus dengan
sel-selnya, serabut-serabutnya juga dibersihkan semuanya.
Channeling-channelingnya juga harus bisa ditelusuri, karena Polri sudah bisa
menunjukkan profesionalitas yang tinggi karenanya mudah untuk Polri untuk
memang bisa bekerja keras untuk hal ini,” jelasnya.

“Kendali yang kuat oleh Mabes Polri bahwa betul-betul ini
harus dipegang teguh untuk hal ini. Pasti kasus-kasus narkoba ini akan ada
terjadi lagi. Karena kita bicara narkoba bukan uang kecil, kita bicara uang
yang sangat besar. Bagaimana kita melawan uang yang besar ini, itu kita harus
ekstra hati-hati, menggunakan channel-channel yang kuat,” imbuh Yundini.

Melalui kasus ini, Yundini berharap Polri dapat membuat
tonggak sejarah baru sebagai institusi penegak hukum yang profesional dan dapat
diandalkan. Ia mengingatkan agar Polri tidak kembali mengulang kasus Teddy
Minahasa.

“PR (pekerjaan rumah) pasca TM itu adalah terserah Polri,
bikin tonggak sejarah atau kembali mengulang sejarah kelam. Bikin tonggak
sejarah baru bahwa Polri tidak seperti itu, atau kembali mengulang tergoda,
Polri jangan sampai tergoda mengulang peristiwa TM. Godaan kan pasti ada,
makanya bolanya di Polri. Jangan kita ketinggalan oleh sejarah, kita membuat
sejarah baru,” tutupnya.