*Menuju ASN Kepulauan Riau Kompeten dan Adaptif
Bid TIK Polda Kepri – Sekretaris Daerah Provinsi Kepulauan Riau, Adi Prihantara, secara resmi membuka Workshop Pengembangan Kompetensi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau yang digelar di Aula Wan Seri Beni, Dompak, pada Selasa (24/12).
Workshop ini mengusung tema “Strategi Kebijakan Pengembangan Kompetensi Aparatur Sipil Negara (ASN)” dengan narasumber utama Kepala Pusat Pembinaan Jabatan Fungsional Lembaga Administrasi Negara (LAN), Erfi Muthmainah dan Direktur Politeknik STIA Lan Jakarta, Nurliah Nurdin.
Dalam sambutannya, Adi Prihantara menegaskan pentingnya peningkatan kompetensi ASN untuk mendukung pembangunan jangka panjang Provinsi Kepulauan Riau menuju Permata Birunya Indonesia pada tahun 2045. Ia juga menyoroti tantangan era disrupsi, megatrend global dan VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) yang menuntut ASN untuk terus berinovasi dan beradaptasi.
“Pengembangan kompetensi ASN adalah keharusan yang tak terelakkan, sebagaimana amanat UU ASN Nomor 20 Tahun 2023. ASN harus mampu mentransformasi kompetensi diri, beradaptasi dengan teknologi, serta meningkatkan etos kerja untuk memberikan pelayanan paripurna kepada masyarakat,” kata Sekdaprov Adi.
Lebih lanjut, Sekdaprov Adi juga menyebutkan bahwa ekosistem birokrasi yang mendukung budaya belajar, inovasi, dan kolaborasi adalah kunci keberhasilan menghadapi tuntutan masyarakat dan dunia usaha.
“Workshop ini menjadi pijakan awal untuk menyongsong tantangan tahun 2025 yang lebih berat, serta mendukung visi Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Sementara itu, Erfi Muthmainah dalam paparannya menekankan pentingnya transformasi ASN melalui model ASN Corporate University, sebuah sistem pembelajaran terintegrasi yang melibatkan kolaborasi lintas instansi pemerintah, sektor swasta, NGO dan startup.
“ASN perlu memiliki kompetensi adaptif, fleksibel, dan responsif terhadap dinamika global. Dengan pendekatan ini, kita mendorong ASN menjadi pembelajar sepanjang hayat, inovatifdan berjiwa kewirausahaan,” jelas Erfi.
Erfi juga menyampaikan tiga tahapan utama transformasi ASN berdasarkan arah kebijakan LAN yaitu, Smart ASN 2024 yang Fokus pada integritas, nasionalisme dan penguasaan teknologi, Robust dan Inclusive ASN 2030 yang Mengembangkan ASN yang produktif, adaptif dan ramah lingkungan dan Competitive ASN 2045 yang Menciptakan ASN berdaya saing global, responsif dan inovatif.
Dalam kesempatan tersebut, Erfi juga mengidentifikasi sejumlah tantangan, seperti kurangnya budaya belajar di birokrasi, sistem pembelajaran yang terfragmentasi dan keterbatasan akses pembelajaran. Sebagai solusi, LAN menerapkan pendekatan berbasis meritokrasi, teknologi pembelajaran dan manajemen pengetahuan.
“Kami harapkan Workshop ini dapat menjadi awal penguatan kompetensi ASN di Kepulauan Riau dalam mendukung program prioritas nasional, menciptakan birokrasi yang inovatif, serta responsif terhadap kebutuhan masyarakat,” tutupnya.
Sementara itu, Nurliah Nurdin menyampaikan pentingnya penguatan kompetensi ASN yang mencakup kompetensi teknis, manajerial, dan sosial-kultural. Dalam paparannya tersebut, ia menyoroti tantangan yang dihadapi ASN, seperti kurangnya pelatihan digital yang terstruktur, resistensi terhadap perubahan, keterbatasan infrastruktur teknologi, serta beban kerja yang tinggi.
Menurut Nurliah, transformasi digital birokrasi menjadi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan efisiensi pelayanan publik, transparansi, dan daya saing global. Ia juga menekankan perlunya adopsi kompetensi abad ke-21, seperti berpikir kritis, kreativitas dan kolaborasi lintas sektor, serta penguasaan teknologi informasi dalam mendukung e-Government.
Pada Workshop ini juga, Nurliah mengidentifikasi tantangan unik yang dihadapi Provinsi Kepulauan Riau, termasuk keterbatasan akses infrastruktur teknologi akibat geografis kepulauan, kesenjangan kualitas SDM dan kebutuhan pelatihan berbasis lokal. Indeks Kompetensi ASN Provinsi Kepulauan Riau yang dirilis menunjukkan perlunya peningkatan signifikan untuk menghadapi disrupsi teknologi.
Sebagai solusi, Nurliah memberikan sejumlah rekomendasi strategis, antara lain, Peningkatan Pendidikan dan Pelatihan Berkelanjutan yang Menyediakan pelatihan intensif untuk penguasaan teknologi digital dan kompetensi manajerial.
Kemudian, Pengembangan Infrastruktur Teknologi, untuk Memperluas jaringan internet hingga ke daerah terpencil melalui program seperti Satelit Palapa Ring, Reformasi Birokrasi Lokal yang Mengintegrasikan pelatihan ASN dengan rencana pembangunan daerah dan Insentif bagi ASN Berprestasi, Memberikan penghargaan bagi ASN yang menunjukkan kemajuan dalam kompetensi digital.
“Workshop ini diharapkan menjadi langkah awal bagi Provinsi Kepulauan Riau dalam mempercepat digitalisasi birokrasi, meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta mendorong pencapaian Sustainability Development Goals (SDGs) secara lebih efektif,” ungkapnya. (Ky)