Bid TIK Kepri – Dalam dunia pemasaran, dua istilah yang sering kamu dengar adalah soft selling dan hard selling. Keduanya adalah teknik yang digunakan untuk mempengaruhi audiens dan mendorong mereka mengambil tindakan tertentu, namun dengan pendekatan yang sangat berbeda. Bagi seorang copywriter, memahami perbedaan antara kedua teknik ini sangat penting. Di artikel ini, kita akan membahas lebih dalam tentang perbedaan soft selling dan hard selling, serta kapan dan bagaimana kamu bisa menggunakannya dalam dunia copywriting.
Baik soft selling maupun hard selling memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebagai copywriter, kamu perlu tahu kapan menggunakan salah satu dari kedua teknik tersebut untuk menyesuaikan dengan audiens dan tujuan pemasaran. Setiap pendekatan memiliki gaya komunikasi yang berbeda, dan penting untuk mengetahui cara memaksimalkan keduanya agar bisa menarik perhatian pembaca serta mengarahkan mereka pada keputusan yang kamu inginkan.
Apa Itu Soft Selling?
1. Teknik yang Mengutamakan Pendekatan Lembut
Soft selling adalah pendekatan yang lebih halus dalam mempengaruhi audiens. Alih-alih langsung menawarkan produk atau layanan, kamu akan lebih fokus pada membangun hubungan terlebih dahulu. Teknik ini mendorong audiens untuk merasa nyaman dan terhubung dengan brand, tanpa ada tekanan untuk membeli. Jadi, copywriting dengan soft selling lebih berfokus pada storytelling dan nilai-nilai yang dapat diberikan kepada audiens.
2. Mengutamakan Edukasi dan Nilai
Pada teknik soft selling, kamu lebih banyak memberikan informasi yang edukatif dan bernilai. Sebagai contoh, jika kamu menulis artikel tentang topik tertentu, kamu dapat menyisipkan produk atau layanan yang kamu tawarkan sebagai solusi untuk masalah yang dibahas dalam artikel tersebut. Hal ini membuat audiens merasa bahwa mereka mendapatkan sesuatu yang berguna, tanpa merasa dipaksa untuk membeli.
3. Membangun Kepercayaan Audiens
Salah satu kunci dari soft selling adalah membangun kepercayaan. Ketika audiens merasa dihargai dan tidak merasa tertekan, mereka lebih cenderung untuk membeli suatu produk atau layanan. Dengan pendekatan ini, kamu bisa memperkuat loyalitas audiens terhadap brand yang kamu wakili, yang pada akhirnya akan membawa hasil jangka panjang dalam hal konversi penjualan.
Apa Itu Hard Selling?
1. Pendekatan Langsung dan Tegas
Berbeda dengan soft selling, hard selling adalah pendekatan yang lebih langsung dan tegas. Teknik ini biasanya melibatkan ajakan untuk membeli produk atau layanan dalam waktu yang singkat. Copywriting yang menggunakan hard selling cenderung lebih berfokus pada menciptakan rasa urgensi dan mendorong audiens untuk segera mengambil keputusan.
2. Menonjolkan Keuntungan dan Fitur Produk
Dalam hard selling, kamu akan menonjolkan keuntungan dan fitur utama dari produk atau layanan yang ditawarkan. Misalnya, dengan memberikan detail tentang bagaimana produk ini akan menyelesaikan masalah audiens dengan cepat dan efektif. Teks copywriting dengan hard selling cenderung lebih persuasif dan berorientasi pada konversi instan, cocok untuk audiens yang sudah siap membeli.
3. Didorong Oleh Urgensi dan Diskon
Salah satu ciri khas dari hard selling adalah penggunaan urgensi dan promosi yang mendorong pembelian segera. Penawaran terbatas, diskon besar, atau waktu tertentu untuk membeli sering kali digunakan untuk memicu audiens agar segera membuat keputusan. Teknik ini lebih sering digunakan dalam kampanye penjualan langsung atau saat ada acara khusus.
Kapan Menggunakan Soft Selling dan Hard Selling?
1. Menyesuaikan Dengan Tujuan Pemasaran
Kapan kamu harus menggunakan soft selling atau hard selling? Jawabannya tergantung pada tujuan pemasaran yang ingin dicapai. Jika kamu ingin membangun hubungan jangka panjang dengan audiens dan membangun brand loyalty, soft selling adalah pilihan yang tepat. Namun, jika tujuan kamu adalah untuk mencapai penjualan cepat dalam waktu singkat, maka hard selling bisa lebih efektif.
2. Menentukan Audiens yang Tepat
Selain tujuan pemasaran, kamu juga perlu mempertimbangkan audiens yang akan kamu tuju. Jika audiens lebih cenderung membutuhkan informasi lebih lanjut dan tidak terburu-buru untuk membeli, soft selling akan lebih cocok. Namun, jika audiens tersebut sudah siap membeli atau membutuhkan dorongan untuk mengambil keputusan, hard selling lebih tepat untuk digunakan.
3. Pencampuran Kedua Teknik
Sering kali, pendekatan yang paling efektif adalah dengan mencampurkan kedua teknik ini. Kamu bisa memulai dengan soft selling untuk membangun hubungan dan memberikan edukasi, kemudian beralih ke hard selling untuk mendorong pembelian dalam waktu yang lebih cepat. Kombinasi ini bisa membantu kamu menciptakan pengalaman yang lebih seimbang bagi audiens.
Baca Juga: Cara Menulis Copywriting Email Marketing yang Efektif
Pilihan Prodi dan Sertifikasi yang Tepat di Bidang Pemasaran
Baik soft selling maupun hard selling memiliki tempatnya masing-masing dalam dunia pemasaran dan copywriting. Sebagai seorang copywriter, kamu harus bisa menyesuaikan teknik yang digunakan dengan tujuan pemasaran dan karakter audiens yang dituju.
Jika kamu ingin mempelajari lebih lanjut mengenai strategi digital marketing dan meningkatkan skill kamu di dunia pemasaran, jurusan Manajemen di Bid TIK Kepri (Bid TIK Kepri) bisa menjadi pilihan yang tepat. Jurusan ini akan memberikanmu pemahaman mendalam tentang cara mengelola bisnis, termasuk dalam hal pemasaran dan strategi komunikasi.
Jika kamu tertarik untuk memperdalam ilmu dan mendapatkan sertifikasi, ada juga Sertifikasi SEO Specialist dan Foundations of Digital Marketing & E-commerce Google Certified yang bisa kamu ambil. Yuk, daftarkan diri kamu di PMB Bid TIK Kepri dan mulai perjalanan kamu untuk menjadi ahli di bidang pemasaran digital! Untuk info lebih lanjut, kamu bisa menghubungi kami melalui WhatsApp di Bid TIK Kepri.
Bergabunglah juga dengan Reseller Bid TIK Kepri, yang akan membantu kamu dalam mempelajari lebih lanjut tentang strategi pemasaran yang efektif. Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa memberikan kamu wawasan yang lebih dalam tentang soft selling dan hard selling! ***