Rahardjo memberikan apresiasi kepada hasil kerja Tim Gabungan Independen Pencari
Fakta (TGIPF) yang memberikan sejumlah rekomendasi terkait Tragedi Kanjuruhan.
Namun, dia menyayangkan, TGIPF tidak menyoroti kejadian pitch invasion
(menyerbu ke lapangan) yang dilakukan suporter Arema sebagai awal mula
terjadinya peristiwa di Stadion Kanjuruhan Malang itu.
Adapun Tragedi Kanjuruhan bermula dari masuknya segelintir
suporter ke tengah lapangan untuk menemui para pemarin Arema FC, lantaran
kecewa akibat kekalahan 2-3 dari Persebaya. Dalam istilah sepak bola, aksi itu
disebut “pitch invasion.”
“TGIPF sudah memberikan rekomendasi yang bagus. Tapi, awal
mula terjadinya kejadian “pitch invasion,” Itu tidak disebutkan Pak
Mahfud MD dan teman-teman. Lebih ke aparat kepolisian,” ungkap Rossi
Rekomendasi TGIPF terkait tuntutan Ketua Umum PSSI dan
seluruh anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI untuk mundur dan segera mengadakan
Kongres Luar Biasa (KLB), sudah tepat. Namun, sebetulnya ragu atas hasil KLB
nanti. Rossi menduga, hasil KLB hanya akan memutuskan pergantian Ketua Umum
PSSI saja. Padahal, penyakit sepak bola selama ini juga berasal dari para
anggota Exco PSSI.
“Hanya saja KLB yang ada sekarang ini hanya untuk menurunkan
Ketua Umum PSSI. Dari sisi kami, penyakit sepak bola itu tidak hanya di
ketuanya, tetapi jajaranya pengurusnya, dari Exco PSSI,” ujar Rossi.
Menurut Rossi “Bagaimana tidak, seorang Exco merangkap
sebagai pemilik klub, pengelola klub. Kita bisa sebut saja dari Barito Putera
itu Hasnuyardi. Lalu dari PSIS Semarang Yoyok Sukawi, dari Madura United Haruna
Soemitro dan sebagainya,”.
“Bahkan Wakil Ketua PSSI Iwan Budianto pun adalah pemegang
saham Arema sebesar 75 persen. Ini baru mencuat. Sebelumnya pemilik Arema
dianggap Gilang. Engga juragan 99 itu hanya 16 persen saham. Tapi Iwan Budianto
pemilik saham mayoritas,” lanjutnya.
Berdasarkan analisa itu, langkah paling tepat untuk
memperbaiki kualitas sepak bola Indonesia yakni memutus generasi. Semua
pengurus PSSI saat ini harus diganti dengan sosok yang benar-benar memiliki
kredibilitas dan integritas.
“Nah siapa orang-orang itu? Ayo kita cari bersama. Saya kira
masih banyak orang-orang tulus memajukan Sepak Bola di Indonesia,” jelasnya.