Sepak Bola, Rossi Rahardjo mengatakan, seluruh pengurus PSSI saat ini harus
diganti dengan pengurus yang baru. Ketua PSSI hingga jajaran Komite Eksekutif
(Exco) PSSI harus diganti dengan sosok yang benar-benar memiliki kredibilitas
dan integritas.
“Kita perlu potong generasi. Sebab sejak saya kecil,
pengurusnya itu-itu saja. Orang-orangnya Nirwan Bakrie. Kemudian ganti Iwan
Budianto, Haruna Soemitro, Yoyok Sukawi dan geng-gengnya. Jadi, siapa pun ketua
PSSI-nya, pengurusnya tetap mereka-mereka saja. Jadi mereka harus bisa
dibersihkan dari organisasi. Kemudian kita cari terbaik yang punya niat untuk
maju,” ungkap Rossi
“Nah siapa orang-orang itu? Ayo kita cari bersama. Saya kira
masih banyak orang-orang tulus memajukan Sepak Bola di Indonesia,” jelasnya.
Rossi mulanya menanggapi langkah PSSI yang segera mengadakan
Kongres luar Biasa (KLB). KLB diadakan menanggapi rekomendasi Tim Gabungan
Independen Pencari Fakta (TGIPF) Tragedi Kanjuruhan. TGIPF meminta PSSI segera
mengadakan KLB untuk memilih kepengurusan baru. Dalam laporannya, TGIPF juga
menilai Ketua Umum sekaligus jajaran Komite Eksekutif PSSI sepatutnya mundur
sebagai bentuk pertanggung jawaban moral atas Tragedi Kanjuruhan yang telah
merenggut 135 nyawa.
Namun, menurut Rossi, hasil KLB PSSI nanti hanya untuk
mengganti Ketua Umum PSSI, tidak termasuk jajaran Exco PSSI. Padahal, penyakit
sepak bola selama ini juga berasal dari para anggota Exco PSSI.
“Hanya saja KLB yang ada sekarang ini hanya untuk menurunkan
Ketua Umum PSSI. Dari sisi kami, penyakit sepak bola itu tidak hanya di
ketuanya, tetapi jajaranya pengurusnya, dari Exco PSSI,” ujar Rossi.
“Bahkan Wakil Ketua
PSSI Iwan Budianto pun adalah pemegang saham Arema sebesar 75 persen. Ini baru
mencuat. Sebelumnya pemilik Arema dianggap Gilang. Engga juragan 99 itu hanya
16 persen saham. Tapi Iwan Budianto pemilik saham mayoritas,” lanjutnya.
Di samping itu, Rossi mengatakan, peristiwa Kanjuruhan juga
harus menjadi pembelajaran untuk memperbaiki sistem sepak bola di Indonesia.
Tidak masalah memutuskan untuk berhenti satu hingga dua tahun demi memperbaiki
kualitas. Indonesia bisa belajar dari Inggris dalam menyikapi Tragedi di Stadion
Heysel di Brussels, Belgia.
“Pertama kita memang harus berani untuk potong generasi.
Memang perlu juga satu atau dua tahun kita benahi dahulu. Kita benahi sistem
yang ada. Inggris pernah disanksi UEFA ketika suporter Liverpool rusuh tahun
1984 ketika final liga Champions. Ketika ada sanksi, Ratu Elizabeth dan
Margaret Thatcher (PM Inggris waktu itu) mengatakan Inggris tidak usai keluar
negeri dahulu. Jadinya, liga Inggris sekarang yang terbik di dunia,” ujar
Rossi.
Setelah memotong generasi, perlu dilakukan pembenahan secara
sistematis. Pembenahan bisa dilakkan dari sisi manajemen klub. “Kebetulan
kemarin kami main di Liga 3 Jawa Timur. Memang masih belum sempurna. Saya dan
teman-teman sudah mulai mengadopsi cara yang dilakukan klub luar negeri.
Seperti kita sudah tidak melakukan kontrak pemain sekali musim. Kita berani
kontrak 2 tahun dan sebagainya,” Tutupnya.