yang diterbitkan dalam American Chemical Society’s Journal of Proteome Research
mencatat kurang tidur dapat mengurangi tingkat protein pelindung otak, yang
menyebabkan kematian saraf.
Studi yang melibatkan tikus sebagai subjek uji ini
mengevaluasi seberapa baik tikus menavigasi labirin sederhana dan belajar
mengenali objek baru setelah kurang tidur selama dua hari.
Seperti dilansir dari laman Indian Express, Jumat ,
peneliti kemudian mengekstraksi protein dalam hippocampus-bagian otak yang
terlibat dalam pembelajaran dan memori pada tikus.
“Kami kemudian mengidentifikasi protein yang
kelimpahannya berubah. Lalu untuk mempersempit kemungkinan, kami melihat data
yang menghubungkan protein-protein ini dengan kinerja tikus saat melalui
labirin setelah kurang tidur,” ungkap peneliti.
Para ahli menjelaskan, bahwa kurang tidur menyebabkan
berbagai efek pada fungsi otak, misalnya menurunkan konsentrasi. Konsolidasi
memori terjadi saat tidur, sehingga penyimpanan dan pengambilan memori
terpengaruh.
“Kurang tidur juga dapat menyebabkan gangguan dalam
pengambilan keputusan dan kurangnya kontrol emosi. Kecelakaan juga dapat
terjadi karena gangguan penilaian saat mengemudi,” jelas Konsultan ahli
saraf di Rumah Sakit Manipal India, dr. Shobha N.
Menurutnya, kondisi neurologis yang sudah ada sebelumnya
seperti migrain dan epilepsi dapat memburuk. Bahkan, kurang tidur dalam jangka
panjang juga dapat menimbulkan konsekuensi fisik.
“Orang tersebut akan rentan terhadap penyakit radang
neurologis dan sistemik yang kronis. Hal ini dapat menyebabkan penyakit kronis
lainnya seperti hipertensi, diabetes melitus, dan dislipidemia,”
terangnya.
“Pola tidur yang berubah dapat menyebabkan kecanduan
dan penyalahgunaan zat. Semua ini dapat membuat seseorang lebih rentan terhadap
penyakit jantung dan stroke,” sambungnya.
Para ahli saraf telah mengamati bahwa selama tidur nyenyak,
otak melakukan fungsi-fungsi penting seperti membersihkan produk limbah dan
protein berbahaya yang terakumulasi sepanjang hari. Tanpa tidur yang cukup,
proses pembersihan ini akan terganggu.
“Kurang tidur dapat menyebabkan penyakit
neurodegeneratif seperti demensia dan penyakit Parkinson. Singkatnya, kurang
tidur dapat berdampak pada plastisitas neuron dan membuka jalan menuju berbagai
penyakit neurologis dan sistemik,” tutupnya.