BMKG: Krisis Air Dipicu oleh Perubahan Iklim

bmkg krisis air dipicu oleh perubahan iklim 64756

Bid TIK Polda Kepri

 – Jakarta. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
(BMKG) kembali mengingatkan peningkatan emisi gas rumah kaca, berdampak pada
fenomena perubahan iklim yang akhirnya memicu krisis air.

“Krisis air menjadi ancaman serius sekaligus nyata dan
harus jadi perhatian seluruh negara. Salah satu penyebab utama krisis air
adalah terus meningkatnya emisi gas rumah kaca yang berdampak pada peningkatan
laju kenaikan suhu udara,” ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam
keterangannya di Jakarta, Jumat .

Dalam acara 2nd Stakeholders Consultation Meeting, The 10th
World Water Forum (WWF) atau Forum Air Dunia, Kepala BMKG mengatakan kenaikan
suhu udara mengakibatkan proses pemanasan global terus berlanjut dan berdampak
pada fenomena perubahan iklim yang juga dapat memicu krisis pangan dan bahkan
krisis energi, serta meningkatnya frekuensi, intensitas, dan durasi, kejadian
bencana hidrometeorologi.

Ia menyampaikan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada 2022
lalu melaporkan bahwa Planet Bumi jauh lebih hangat 1,15 derajat Celsius jika
dibandingkan dengan rata-rata suhu udara permukaan pada masa pra-industri
(1850-1900).

“Saat ini dalam penilaian awal (September 2023)
menunjukkan bahwa tahun 2023 akan menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat
dalam sejarah,” papar Kepala BMKG.

Menurutnya,
dampak dari variabilitas dan perubahan iklim sering kali dirasakan melalui air.
Dinamika siklus air dan interaksinya dengan manusia menghasilkan pola
ketersediaan sumber daya air yang bervariasi secara spasial dan temporal.

Selain itu, lanjutnya, dampak ekstrem terkait air sangat
mempengaruhi kehidupan, perkembangan, dan keberlanjutan ekosistem, serta
masyarakat dan individu.

Tantangan lain yang dihadapi dalam pemenuhan kebutuhan air
adalah ekstraksi air tanah yang menyebabkan penurunan muka air tanah.

“Musim kemarau yang berkepanjangan, tidak meratanya
aksesibilitas serta distribusi air bersih, dan infrastruktur untuk pengelolaan
sumber daya air juga merupakan tantangan dalam mewujudkan kesetaraan dan
keadilan terhadap ketersediaan air,” jelas Kepala BMKG.

Ia mengatakan apabila hal ini terus dibiarkan maka krisis
air juga akan berujung pada krisis pangan, krisis energi, bahkan krisis sosial.

“Semakin menipisnya sumber daya alam, termasuk air juga
disebabkan oleh jumlah populasi penduduk dunia yang terus bertambah,”
tuturnya.

Maka dari itu, Kepala
BMKG yang juga anggota Dewan Eksekutif WMO meminta semua negara harus melakukan
aksi mitigasi dan adaptasi secara sistematis dan kolaboratif, serta merumuskan
kebijakan konservasi dan pengelolaan sumber daya air secara efisien berbasis
ilmu pengetahuan.

“Ini penting untuk segera dilakukan karena air adalah
salah satu kebutuhan dasar hidup manusia,” ujar Kepala BMKG.