Bid TIK Polda Kepri – Rezeki tidak selalu berbentuk angka di rekening, jabatan yang meningkat, atau pekerjaan yang terlihat lebih berhasil dibanding orang lain. Pesan itu mengemuka dalam kegiatan pembinaan rohani dan mental (Binrohtal) rutin personel Polda Kepulauan Riau di Masjid Al-Halim Polda Kepri, Kamis, 8 Oktober 2026.
Kegiatan yang berlangsung pukul 07.00 hingga 09.00 WIB tersebut diikuti personel Polda Kepri, termasuk lima personel Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (Bid TIK) Polda Kepri, yakni Briptu Aditya Saputra, S.H., Briptu Michael Agung Pratama Sitepu, Bripda Mario Dewa Pratama, Penda TK I Wira Handayani, A.Md., dan Pengatur TK I Igor Irzanto, A.Md.
Tauziah disampaikan Ustaz Mahmud Aljawi, S.Pd.I., M.Pd. Ia mengajak personel untuk melihat rezeki bukan semata-mata dari apa yang dimiliki orang lain. Rasa syukur, kata dia, menjadi bagian penting dalam menjaga ketenangan hati sekaligus membangun kualitas kehidupan seorang Muslim.
“Jangan melihat rezeki orang lain kemudian merasa rezeki kita kurang. Allah telah memberikan rezeki kepada setiap manusia dengan ukuran dan jalan yang berbeda,” ujar Mahmud dalam tauziahnya. Kamis (8/10/2026).
Pesan tersebut menjadi relevan bagi personel Polri yang sehari-hari bekerja dalam lingkungan dengan tuntutan tugas, tanggung jawab, dan tekanan yang berbeda-beda. Perbedaan jabatan, beban kerja, penghargaan, maupun capaian seseorang tidak semestinya menjadi ukuran untuk menilai seberapa besar Allah memberikan rezeki kepada seorang hamba.
Rezeki dan Ujian Rasa Syukur
Bagi Briptu Aditya Saputra, S.H., materi Binrohtal tersebut bukan sekadar nasihat keagamaan. Ia melihat rasa syukur sebagai cara untuk menjaga sikap dalam menjalankan tugas.
Menurut Aditya, pekerjaan sebagai anggota Polri memiliki dinamika yang membuat seseorang mudah membandingkan dirinya dengan orang lain. Karena itu, kemampuan menerima dan mensyukuri apa yang telah diberikan Allah menjadi penting.
“Kadang kita melihat keberhasilan orang lain dan tanpa sadar membandingkannya dengan keadaan kita. Dari kegiatan ini saya memahami bahwa yang lebih penting adalah bagaimana kita mensyukuri rezeki yang sudah diberikan Allah dan tetap berusaha menjalankan tugas dengan baik,” kata Aditya.
Baca Juga: Tak Sekadar Bawa Sembako, Bid TIK Polda Kepri Hadirkan Kepedulian di “Panti Jompo True Love”
Ia menilai keberhasilan dalam pekerjaan tidak hanya ditentukan oleh hasil material. Kesempatan untuk bekerja, kesehatan, keluarga, lingkungan yang mendukung, serta kemampuan memberikan pelayanan kepada masyarakat juga merupakan bentuk rezeki yang sering kali luput disadari.
“Rezeki bukan hanya soal materi. Bisa menjalankan tugas, diberi kesehatan, masih memiliki keluarga, dan diberi kesempatan berbuat baik juga merupakan rezeki,” ujarnya.

Pemahaman serupa disampaikan Briptu Michael Agung Pratama Sitepu. Ia mengatakan rasa iri terhadap pencapaian orang lain dapat mengganggu konsentrasi seseorang dalam menjalankan tanggung jawabnya.
“Setiap orang mempunyai jalan dan waktunya masing-masing. Yang bisa kita lakukan adalah terus bekerja, berdoa, memperbaiki diri dan tidak menjadikan keberhasilan orang lain sebagai alasan untuk merasa rendah atau tidak bersyukur,” kata Michael.
Sholat Bukan Transaksi dengan Rezeki
Salah satu pesan penting dalam tauziah tersebut adalah mengenai hubungan antara pelaksanaan sholat dan cara seorang Muslim memandang rezeki.
Ustaz Mahmud mengingatkan agar seorang Muslim tidak menjadikan ibadah sebagai semacam transaksi. Melaksanakan sholat bukan berarti seseorang harus langsung mendapatkan kesuksesan duniawi lebih besar dibandingkan orang yang tidak melaksanakan sholat.
Pertanyaan seperti “Mengapa saya sudah sholat tetapi rezeki saya belum seperti orang lain?” justru perlu dijawab dengan memperbaiki cara pandang terhadap ibadah.
Sholat merupakan kewajiban seorang Muslim sekaligus sarana membangun hubungan dengan Allah SWT. Sementara rezeki, keberhasilan, kegagalan, dan ujian kehidupan berada dalam ketentuan Allah dan tidak dapat diukur hanya berdasarkan perbandingan kehidupan antarmanusia.
Bripda Mario Dewa Pratama mengatakan pesan tersebut memberikan perspektif bahwa ibadah harus dilakukan karena kesadaran sebagai seorang Muslim, bukan semata-mata untuk mengejar hasil duniawi.
“Sholat bukan berarti kita sedang menuntut Allah untuk memberikan sesuatu sesuai keinginan kita. Sholat adalah kewajiban dan bentuk penghambaan kepada Allah. Setelah itu kita tetap berusaha dan menyerahkan hasilnya kepada Allah,” kata Mario.
Menurut dia, pemahaman tersebut penting bagi anggota Polri karena tugas sehari-hari sering kali menuntut kesabaran dalam menghadapi persoalan yang hasilnya tidak selalu dapat dilihat secara cepat.

Rukun Islam sebagai Fondasi Kehidupan
Materi Binrohtal kemudian dikaitkan dengan pelaksanaan Rukun Islam dalam kehidupan seorang Muslim. Lima Rukun Islam—syahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji bagi yang mampu—bukan sekadar rangkaian kewajiban ritual. Nilai-nilainya dapat menjadi pedoman dalam membentuk perilaku sehari-hari.
Syahadat meneguhkan keyakinan kepada Allah. Sholat membangun kedisiplinan sekaligus hubungan seorang hamba dengan Allah. Zakat mengajarkan kepedulian sosial. Puasa melatih pengendalian diri dan kesabaran. Sementara ibadah haji, bagi yang mampu, mengandung pelajaran tentang ketundukan, kesetaraan dan pengorbanan.
Baca Juga: “Bid TIK Polda Kepri Perkuat Zona Integritas, Teknologi Didorong Jadi Pengungkit Pelayanan Publik”
Penda TK I Wira Handayani, A.Md., menilai pemahaman tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan kedinasan. Menurutnya, nilai agama seharusnya tidak berhenti ketika kegiatan Binrohtal selesai, tetapi tercermin dalam perilaku dan pelaksanaan tugas.
“Rukun Islam mengajarkan kita untuk disiplin, peduli, mampu mengendalikan diri dan selalu mengingat Allah. Nilai-nilai itu juga dapat diterapkan dalam pekerjaan, terutama dalam menjaga sikap, kejujuran dan tanggung jawab,” ujar Wira.
Ia menambahkan, rasa syukur juga dapat mencegah seseorang terjebak dalam ketidakpuasan yang berlebihan. Seorang anggota Polri tetap perlu memiliki target dan semangat untuk meningkatkan kemampuan, tetapi proses tersebut tidak harus dibangun melalui rasa iri terhadap pencapaian orang lain.
Bekerja, Berdoa, dan Bersyukur
Pengatur TK I Igor Irzanto, A.Md., memandang pesan Binrohtal sebagai pengingat agar keseimbangan antara ikhtiar dan doa tetap terjaga.
Menurut Igor, berdoa tidak berarti mengurangi kewajiban untuk bekerja keras. Sebaliknya, seorang Muslim harus menjalankan tugas secara maksimal sembari menyadari bahwa hasil akhir berada di luar kendali manusia.
“Kita tetap harus bekerja dengan sungguh-sungguh. Tetapi jangan sampai ketika hasilnya belum sesuai harapan kemudian kita menyalahkan keadaan atau membandingkan diri dengan orang lain. Kita berusaha, berdoa, kemudian bersyukur atas hasil yang diberikan Allah,” kata Igor.
Bagi personel Bid TIK Polda Kepri, pesan tersebut juga memiliki kaitan dengan karakter pekerjaan di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Perkembangan teknologi yang cepat menuntut personel untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, dan beradaptasi dengan perubahan.
Keberhasilan seorang personel tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi kemampuan teknisnya. Integritas, kedisiplinan, kemampuan bekerja sama dan ketahanan mental menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan tugas.
Di tengah pekerjaan yang menuntut kecepatan dan ketelitian, pembinaan rohani menjadi ruang untuk kembali mengingat tujuan yang lebih mendasar: bekerja sebagai bentuk tanggung jawab dan pengabdian.

Dari Masjid ke Ruang Kerja
Binrohtal di Masjid Al-Halim Polda Kepri pada Kamis pagi itu pada akhirnya tidak berhenti pada persoalan siapa yang memperoleh rezeki lebih banyak.
Pesan utamanya justru mengajak setiap personel untuk mengubah cara memandang kehidupan. Keberhasilan orang lain tidak mengurangi jatah rezeki seseorang. Begitu pula kesulitan yang dialami hari ini tidak serta-merta menjadi tanda bahwa Allah tidak memberikan perhatian.
Briptu Aditya menilai rasa syukur harus diterjemahkan dalam tindakan nyata.
“Syukur bukan hanya ucapan alhamdulillah. Syukur juga harus terlihat dari cara kita bekerja, menjaga amanah, menghargai orang lain dan menggunakan apa yang diberikan Allah untuk hal yang baik,” ujarnya.
Pemahaman itu sejalan dengan semangat pembinaan mental dan rohani di lingkungan Polri. Personel tidak hanya dituntut memiliki kemampuan profesional, tetapi juga memiliki landasan moral dalam menjalankan kewenangan dan tanggung jawabnya.
Pada akhirnya, pesan yang dibawa dari Masjid Al-Halim menuju ruang kerja sederhana: jangan mengukur rezeki dengan milik orang lain, jangan meninggalkan kewajiban karena mengejar dunia, dan jangan berhenti berusaha hanya karena hasil belum sesuai harapan.
Sholat tetap ditegakkan. Doa tetap dipanjatkan. Ikhtiar terus dilakukan. Dan ketika hasil datang, seorang Muslim diajarkan untuk menerimanya dengan rasa syukur.
Sebab, rezeki bukan hanya tentang apa yang berhasil dikumpulkan manusia, melainkan juga tentang kemampuan menyadari bahwa apa yang telah dimiliki hari ini merupakan amanah dari Allah SWT.

Binrohtal Perkuat Keimanan, Ketakwaan, Integritas, serta Kesiapan Dalam Melaksanakan Tugas
Kegiatan Binrohtal rutin personel Polda Kepri tersebut berlangsung dengan tertib dan penuh khidmat. Keikutsertaan personel Bid TIK Polda Kepri dalam kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pembinaan mental dan spiritual guna memperkuat keimanan, ketakwaan, integritas, serta kesiapan personel dalam melaksanakan tugas secara profesional.
Melalui pembinaan rohani yang dilaksanakan secara berkesinambungan, diharapkan seluruh personel Polda Kepri, khususnya personel Bid TIK, mampu mengimplementasikan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari maupun pelaksanaan tugas kedinasan. Rasa syukur, keikhlasan, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kemampuan mengendalikan diri diharapkan menjadi landasan dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Kegiatan Binrohtal ini sekaligus menjadi momentum bagi personel untuk melakukan introspeksi dan memperkuat komitmen bahwa pelaksanaan tugas kepolisian tidak hanya membutuhkan kompetensi dan profesionalisme, tetapi juga membutuhkan keteguhan iman, akhlak, dan moral sebagai landasan dalam menjalankan amanah negara.
Dengan demikian, pembinaan rohani dan mental di lingkungan Polda Kepri diharapkan dapat terus memberikan kontribusi positif terhadap pembentukan personel yang berintegritas, humanis, bertanggung jawab, serta mampu melaksanakan tugas sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat dengan dilandasi nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. (TekInfoPoldaKepri)
